Internet Marketing

ayo gabung!!!

CO.CC:CEPAT KAYA

Saturday, August 15, 2009

Financial Self-Defense: How to Protect Everything You Own...From Everyone...Everytime

Submitted by emsi



Attorneys Hillel Presser and Arnold Goldstein have a challenge for everyone.

Take a fraction of the time you spend earning money, and think about how you can protect it. Presser and Goldstein, authors of the book Financial Self-Defense: How to Protect Everything You Own...From Everyone...Everytime! from Garrett Press (www.garrettpub.com), want you to use their book as a primer.

"Everything in life begins with a good plan," Presser said. "This book is the beginning of your plan to build yourself a financial fortress - a literal barricade to safeguard your worldly possessions."

You should start at the beginning - assess where you are right now by asking yourself:

• What do I have now?
• What do I own?
• What dangers are there to my wealth?
• What have I done to protect my assets?

Having a self-defense plan in place is necessary whether you are rich or poor. This book is essential for anyone who earns money, inherits money or finds money, and wants to keep it. It is also necessary for anyone who has gone through financial difficulty before and wants to avoid going through it again and anyone who is heading into a financial difficulty - especially with today's economic difficulties.

Good reasons to seek asset protection are:

• Lawsuits
• Divorce
• Creditors
• Bankruptcy
• Tax collectors
• Foreclosure

There are several myths and fallacies that Goldstein and Presser debunk, including:

• "I have too few assets to protect" - "Wealth is relative," Presser said. "How would you feel if you lost everything you have? It doesn't have to be a lot to be your life's savings."
• "I can't foresee anyone suing me" - "Crazy things happen, and you never know where circumstance will take you," he said. "You don't want to be taken by surprise."
• "I can protect myself with liability insurance" - "Your claim could be denied because of some technicality," he added. "You might not have enough coverage or your insurance company could simply go bankrupt."
• "It costs too much" - "Most families can shelter their net worth for less than they'd pay for a modest vacation," he said. "Asset protection is an investment in your future."
• "It's not moral to shield your assets" - "Bankruptcy laws, exemption laws, corporations, trusts and other protective entities and debtor-oriented laws are intended to shield wealth. Our society is based on a foundation of laws, and these laws exist to prevent bad things from happening to good people."

According to Presser, most people simply need an effective asset firewall, something that changes as you and your wealth change and grow.

"Don't overlook your intangible assets, future assets, intellectual property, inheritances, monies due you," he added. "These often overlooked assets can have great value. Asset protection is like football. You need a defensive line that will best block a particular offensive line."

When your assets are in jeopardy through a lawsuit or legal action against you, Presser suggested layering your firewalls. This way, if one fails, there are still more that stand as obstacles between those actions and your assets. He also cautioned that this kind of defense can be costly, which is why they only use it if there is an imminent threat. Presser explained how to "bulletproof" your investments and retirement accounts by layering firewalls to protect them. Along with protecting your assets, you need to protect your estate.

"Why work a lifetime to accumulate and safe-keep assets only to lose them after you die?" he asked. "Estate planning goes hand -in-hand with asset protection planning."



Wednesday, July 29, 2009

Tips Memulai Bisnis dari Hobi

foto berita artikel

Hobi adalah cara tepat untuk memulai bisnis. Mengapa? Karena menggabungkan antara kesenangan, minat dan bakat. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa terbebani saat bekerja atau membangun bisnis. Seolah-olah Anda melakukannya sambil bermain. Bukan itu saja, jika itu adalah hobi, maka pasti Anda sudah tahu seluk-beluknya bahkan sampai detil. Misalnya saja Anda hobi merawat tanaman. Pasti Anda tahu di mana mendapatkan bibit yang baik, tempat membeli pupuk, media dan bahan penunjang lainnya dengan harga murah dan cara perawatan dan budidaya tanaman. Mungkin juga Anda sudah bergabung dengan komunitas hobiis yang sama. Ini mempermudah Anda memperoleh informasi dan relasi.

Lalu, bagaimana untuk memulai bisnis dari hobi ini? Sebenarnya hampir sama dengan memulai suatu bisnis baru. Bedanya, Anda sudah punya basis pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang memadai. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan adalah:

1. Tekuni Hobi Anda
‘Practice makes perfect’ . Jika selama ini Anda melakukan hobi karena untuk mengisi waktu luang atau iseng, mulai kini Anda harus tekun berlatih. Jangan lupa praktik langsung dari semua teori yang sudah Anda pelajari. Dengan terus berlatih, kemampuan Anda akan meningkat dan Anda mampu menghasilkan produk terbaik. Ini tentu akan menaikkan nilai jualnya.

2. Tambah pengetahuan Anda
Tidak cukup jika mengandalkan pengalaman. Anda perlu menambah pengetahuan melalui kursus, seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan hobi. Lewat aktivitas semacam itu, Anda akan memperoleh pengetahuan serta sertifikat yang bisa menaikkan personal branding dan prestise. Ini akan menumbuhkan kepercayaan pelanggan. Tak ada salahnya membaca buku, majalah, internet atau media lain untuk meningkatkan pengetahuan Anda. Dengan mengikuti milis (mailling list) sesuai hobi, Anda bahkan bisa memperoleh tambahan wawasan. Bisa jadi malah ketemu ahlinya langsung. Tentunya ini sangat bermanfaat.

3. Belajar dari Ahlinya
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tidak perlu pengalaman itu Anda alami sendiri. Anda bisa menimba pengalaman dari pelaku bisnis yang telah sukses. Misalnya belajar dari pengusaha tanaman hias yang telah sukses. Atau belajar dari dosen peneliti yang mumpuni. Belajar langsung dengan para pakar dan orang yang sukses menjalankan hobi sesuai yang Anda tekuni, akan meningkatkan kemampuan Anda. Ini adalah cara terbaik untuk menghasilkan sebuah produk yang bagus dan kompetitif baik dari segi kualitas maupun harga. Bahkan Anda bisa mengukur kemampuan dan hasil karya Anda.

4. Pasarkan produk Anda
Jika produk Anda sudah siap, segera pasarkan. Untuk tahap awal, bisa ditawarkan ke komunitas yang Anda ikuti. Atau ke lingkungan terdekat seperti tetangga dan saudara. Keuntungannya, Anda bisa meminta masukan tentang produk Anda, dan memperbaikinya sebelum disebarluaskan. Jika respon mereka bagus, Anda bisa mencoba menawarkan ke toko-toko. Hanya saja, beberapa jenis toko hanya mau menerima barang dari suplier tertentu.
Atau kalau tidak, mereka memberikan syarat tertentu, semisal jumlah minimal item barang, kontinuitas pasokan, potongan harga, dll.
Jika produk Anda unik dan tidak pasaran, lebih baik melakukan pemasaran online. Selain murah, Anda bisa menjangkau konsumen yang tepat.

5. Jangan lupa: Promosi!
Pemasaran yang baik perlu ditunjang dengan promosi yang baik pula. Jangan malas untuk mempromosikan produk Anda. Promosi bisa dilakukan dengan banyak cara. Jika ingin gratis, bisa lewat situs iklan gratisan. Atau beriklan di milis-milis. Jika ingin promosi secara personal, bisa dengan membagikan sampel kepada calon pembeli kita. Memberi bonus pada jumlah pembelian tertentu juga bagus untuk promosi. Umumnya bila pelanggan puas, mereka akan bercerita kepada orang lain.

Yang perlu dicatat pula, sebelum benar-benar terjun ke bisnis, Anda tetap perlu melakukan riset pasar dan membuat business plan meskipun secara sederhana. Ini untuk menghindari terbuangnya tenaga, waktu dan biaya. Selain itu, Anda jadi tahu dari beberapa hobi yang Anda punya, hobi mana yang bisa dijadikan usaha. Jadi, sudah siapkah hobi Anda dibisniskan?

Salam sukses!

Dessy Danarti, penulis buku “Dari Hobi menjadi Hoki” (Andi, 2005)
Ciputra, Sosok Pemimpi dan Pekerja Keras
Sesuaikan ukuran huruf:
foto berita artikel

Ir. Ciputra, sosok Bapak Property Indonesia ini begitu lekat dengan kerja keras dari semenjak awal hidupnya. Semenjak Pak Ci kecil, begitu ia biasa disapa, ia sudah sangat terbiasa menghadapi berbagai badai dalam kehidupannya. Namun semua itu justru membentuknya menjadi seorang yang tahan banting dan kreatif.

Dimulai saat Pak Ci masih berusia 12 tahun, ia sudah harus menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya tewas dibunuh oleh tentara Jepang. Ciputra kecil sudah harus bekerja menghidupi ibu dan adik-adiknya yang masih kecil sambil terus bersekolah.

Selepas SMP di Gorontalo, ia kemudian melanjutkan SMA di Manado. Tamat SMA Pak Ci kemudian hijrah ke Bandung untuk kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur ITB. Di Bandung pun Pak Ci masih terus bekerja untuk membiayai studinya dan keluarganya di kampung.

Dengan kreatifitas dan kedisiplinannya dalam bekerja, sedikit demi sedikit Pak Ci mulai mengumpulkan modal untuk membangun bisnisnya. Banyak pihak mulai mempercayai tangan dinginnya dalam menyulap sebuah lahan menjadi property. Salah satu proyeknya yang paling dikenal hingga saat ini adalah Taman Impian Jaya Ancol (TIJA). Ancol yang semuala hanyalah rawa-rawa, disulap menjadi arena bermain yang bergengsi hingga saat ini. Bukan itu saja, Pak Ci juga memperluas Ancol dengan menimbun laut guna memperpanjang garis pantai dari 3,5 km menjadi 10,5 km untuk menampung fasilitas hiburan yang dimiliki Ancol.

Namun perjalanan bisnis seorang Pak Ci tidak mulus begitu saja, pada saat krisis ekonomi menghantam Indonesia, bisnis Pak Ci pun terpukul hebat, karena hutang yang dimilikinya dalam bentuk dollar. Namun setelah melalui restrukturisasi hutang senilai $181 juta dollar Amerika, akhirnya bisnis Pak Ci dapat berjalan kembali.

Setelah sukses dengan berbagai mega proyek property yang ditanganinya, Pak Ci juga terpanggil untuk membantu dunia pendidikan di Indonesia. Untuk itu Pak Ci membuat sekolah-sekolah unggulan yang mementingkan proses belajar kreatif untuk menciptakan manusia unggul.

Jadi apa yang menjadi rahasia seorang Ciputra sehingga ia bisa sedemikian berhasil mengembangkan bisnisnya? Mengenai hal tersebut, Pak Ci pernah mengatakan dua resep utamanya, yaitu memiliki mimpi yang kreatif dan mewujudkannya lewat kerja keras.

Sekarang, di usianya yang telah lebih dari 75 tahun, lelaki kelahiran Parigi Sulawesi Tengah ini masih memiliki mimpi yang ingin dicapainya. Kali ini mimpinya tidak main-main, Pak Ci ingin memiliki blue ocean company yang merambah manca negara. Untuk mewujudkannya, Pak Ci tengah menggarap CHIC (Ciputra Hanoi International City) di Vietnam yang luasnya mencapai 368 hektar. Proyek ini terdiri dari apartemen kelas menengah atas yang lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang layaknya sebuah kota, seperti sekolah internasional, pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit dan lain sebagainya. Proyek yang terbagi dalam 3 tahap ini direncanakan akan selesai pada tahun 2013.

Selain itu, di India, tepatnya di West Bengal, Pak Ci melalui Beyond Limit International Ltd, yang merupakan gabungan Ciputra Group dan Salim Group, tengah membangun Kolkata West International City di lahan 400 hektar dengan nilai investasi mencapai $330 juta dollar Amerika. Itu belum termasuk proyek-proyek lain yang juga ditangani Ciputra Group di Singapura, Hawaii, Vietnam hingga Timur Tengah.

Semua pahit getir yang pernah dialami Pak Ci dalam menjalani hidup maupun mengembangkan bisnisnya, membuat Pak Ci disiplin dalam mendidik keempat anaknya. Selain itu sebagai penganut agama yang taat, Pak Ci juga membekali anaknya dengan pelajaran moral, termasuk dalam hal kejujuran dan tanggung jawab. Untuk itu Pak Ci melatih anaknya bertanggung jawab dengan memberikan saham perusahaan kepada keempat anaknya. “Setelah mampu, mereka akan memegang tampuk kepemimpinan Ciputra Group”, katanya.

Pak Ci berharap proyek-proyeknya di luar negeri dapat berjalan sukses. “Inilah mimpi saya, dan sudah saya ucapkan. Sekarang tinggal melaksanakannya”, ucapnya